• Minggu, 27 November 2022

Bolehkah Berhubungan Suami Istri Saat Puasa Ramadan? Ini Hukumnya

- Rabu, 6 April 2022 | 10:49 WIB
Batasan suami istri bermesraan saat puasa Ramadhan. (istimewa)
Batasan suami istri bermesraan saat puasa Ramadhan. (istimewa)

InspiratioMedia.com - Berhubungan suami istri di siang hari secara sengaja saat puasa ramadan hukumnya membatalkan puasa. Jika dilanjutkan, maka puasanya tetap tidak dianggap tidak sah. Pelaku yang melakukan persetubuhan harus mengganti dengan berpuasa atau memberi makan fakir miskin.

Sebetulnya, ada pahala hubungan suami istri di bulan Ramadan, asalkan dilakukan di malam hari atau di luar waktu saum.

Dalam Islam, berhubungan badan bagi pasangan suami istri tidak dilarang saat Ramadhan. Hal tersebut sebagaimana tercermin dalam Al Quran Surat Al-Baqarah ayat 187 yang artinya:

"Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa."

Lantas, bagaimana hukum berhubungan suami istri di bulan Ramadhan?

Adapun bersetubuh di siang hari saat puasa Ramadhan sudah dipastikan membatalkan ibadah puasa dan secara hukum merupakan perbuatan dosa.

Dikutip dari nu.or.id, orang yang sengaja merusak ibadah puasanya dengan bersetubuh di bulan Ramadhan wajib menjalankan kifarah 'udhma (kafarat besar), dengan urutan kafarat sebagai berikut:

Pertama, dia mesti memerdekakan hamba sahaya perempuan yang beriman, tak boleh yang lain. Sahaya itu pu mesti bebas dari cacat yang mengganggu kinerjanya.

Kedua, jika tidak mampu, pelaku mesti melakukan puasa selama dua bulan berturut-turut.

Halaman:

Editor: Lisnawati

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X