• Sabtu, 1 Oktober 2022

Varian Baru Covid-19 dengan Kode XE Merebak di Inggris, Seberapa Berbahaya Virusnya?

- Selasa, 5 April 2022 | 10:28 WIB
ilustrasi covid-19 (istimewa)
ilustrasi covid-19 (istimewa)

InspiratioMedia.com - Para ahli di Inggris terus menyelidiki tingkat penuluran dan risiko dari varian Omicron XE. Para ahli belum menyatakan pendapatnya terhadap varian baru Covid-19 ini, karena terlalu dini untuk mengetahui tingkat penularannya. XE merupakan varian baru virus Covid-19 yang terdeteksi di Inggris. Inggris telah mencatat ratusan kasus baru terdeteksi jenis Omicron XE.

UK Health Security Agency (UKHSCA) atau badan keamanan kesehatan Inggris menyebut varian baru virus Covid-19 ini sedang diteliti lebih lanjut, varian Omicron XE merupakan mutasi strain omicron BA.1 dan BA.2 atau rekombinan.

Pemerintah Inggris telah mencatat sejumlah kasus varian baru tersebut sebanyak 637 kasus pertanggal 22 Maret 2022. Kasus varian baru itu hanya sebagian kecil dari puluhan ribu kasus penularan Covid-19 yang dilaporkan per harinya.

Tingkat awal penularan kasus XE tidak jauh berbeda dengan varian Omicron BA.2 atau varia Stealth Omicron. Sejak dicabutnya pembatasan di Inggris, kasus di Inggris perlahan naik dan menemukan varian baru virus Covid-19.

UKHSCA mengatakan data terbaru per 16 Maret 2022, pertumbuhan kasus terbilang 9,8 persen di atas varian siluman.

Baca Juga: Cara Mudah Mengajak Anak Untuk Puasa Sejak Dini, Ini Tipsnya

“Karena perkiraan ini tidak tetap konsisten karena data baru telah ditambahkan, itu belum dapat ditafsirkan sebagai perkiraan pertumbuhan untuk rekombinan. Angka terlalu kecil untuk rekombinan XE untuk dianalisis berdasarkan wilayah,” kata UKHSCA.

Kepala transisi penasihat medis UKHSCA Profesor Susan Hopkins mengatakan bahwa varian rekombinan belum cukup bukti untuk menarik kesimpulan tingkat risiko varian baru tersebut.

“Rekombinan khusus XE, telah menunjukkan tingkat pertumbuhan yang bervariasi dan kami belum dapat memastikan apakah ia memiliki keunggulan pertumbuhan yang sebenarnya. Sejauh ini tidak ada cukup bukti untuk menarik kesimpulan tentang penularan, tingkat keparahan, atau efektivitas vaksin,” kata Profesor Susan.

Halaman:

Editor: Lisnawati

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X